Daurah Arkanul Bai’ah : Al Ikhlas (1)

Konsep Ikhlas Dalam Al Quran

Kata Ustaz Hassan al-Banna rahimahullah:

 

أن يقصد الأخ المسلم بقوله وعمله وجهاده كله وجه الله , وابتغاء مرضاته وحسن مثوبته من غير نظر إلى مغنم أو مظهر أو جاه أو لقب أو تقدم أو تأخر , وبذلك يكون جندي فكرة وعقيدة , لا جندي غرض و منفعة

 

“Iaitu setiap al-akh muslim meniatkan dengan perkataannya, perbuatannya dan jihadnya seluruhnya hanya untuk Wajah Allah, mengharap keredhaanNya dan kebaikan ganjaranNya, tanpa melihat kepada harta atau kemasyhuran atau kedudukan atau pangkat atau kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian itu, jadilah dia pejuang fikrah dan aqidah, bukan pejuang kepentingan dan manfaat (untuk diri sendiri).”

Berdasarkan penggunaan bahasa, kata ikhlas di dalam Al Quran disebut dengan pelbagai bentuk. Disebutkan dengan kata al-khalish, yang bererti ash-shafi (murni), yang tidak dikotori oleh noda dan pengaruh apa pun. Contohnya seperti yang disebutkan dalam firman Allah SWT.

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni.” (Az-Zumar: 3)

Disebutkan juga dengan kata khalashu, yang bermakna i’tazalu (menyendiri), seperti dalam firman Allah SWT.:

“Maka apabila mereka berputus asa daripada mendapat pertolonganNya, merekapun mengasingkan (menyendiri) diri lalu berunding tentang hal itu dengan berbisik-bisik.” (Yusuf: 80)

Disebutkan juga dengan kata khalishah, yang bereri khashshah (khusus), seperti yang dirakamkan di dalam Al Quran:

“Sesungguhnya Kami telah mengkhususkan mereka dengan sebuah kehusususan yang berupa mengingatkan (manusia) kepada begeri akhirat.” (Shaf: 46)

Juga disebutkan di dalam Al Quran dengan kata mukhlisan, yang dijamakkan dengan kata mukhlisin, iaitu orang yang memurnikan kepatuhan kepada Allah SWT. tanpa mengotorinya dengan dosa (syirik). Firman Allah SWT.:

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (melaksanakan) agama.” (Az-Zumar: 11)

Continue reading

Arkanul Bai’ah

Arkanul Bai’ah merupakan sebahagian dari risalah Imam Syahid Hasan Al Banna yang bertajuk Risalah Ta’alim Wal Usar. Risalah ini dimunculkan oleh Imam Hasan Al Banna ditengah-tengah perpecahan yang terjadi dalam gerakan-gerakan Ishlah (reformasi) kembali untuk menyatukan semua kaum Muslimin. Setelah Kekhalifahan Turki Ustmani runtuh pada tahun 1924 M muncullah banyak gerakan penyedaran untuk kembali memperbaiki keadaan Umat Islam.

Gerakan-gerakan ini mempunyai beberapa ciri :

1. Cenderung mengambil gerakan yang parsial, iaitu terlalu mengutamakan pada satu aspek perbaikan saja. Ada yang hanya mementingkan aspek aqidah saja, ada yang hanya memfokuskan pada aspek ekonomi dan sosial saja, ada yang memfokuskan pada pembentukan tokoh saja kerana mereka menganggap umat saat sekarang ini kehilangan tokoh. Bahkan ada yang hanya memfokuskan pada aspek politik saja.

2. Antara pelbagai kelompok ini sering tidak akur dan saling menjatuhkan antara satu dengan lainnya. Sehingga perubahan itu tidak kunjung menemukan titik temu yang satu dan kekuatan umat begitu rapuh.

Continue reading