Mengapa Dakwah?

canon 1 060

Mengapa kita berdakwah? Di dalam surat Al A’raf ayat 164, Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab oleh Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertaqwa.”

Hanya ada dua penyebab kita berdakwah sekaligus menjadi motivasi dan tujuan kita untuk berdakwah, pertama agar kita memiliki alasan pembelaan di hadapan Allah kelak (ma’dziratan ilaa rabbikum). Kelak Allah SWT akan bertanya, ketika pelbagai penyimpangan, kemaksiatan, larangan-Ku dilakukan di muka bumi, cuba sebutkan apa saja yang kamu telah lakukan! Kelak dengan mudah amal kita yang akan menjawab, “Wahai Allah, saya sudah berbuat ini dan itu, saya sudah berdakwah kepada mereka, saya telah mengajak mereka ke jalan-Mu, dan sebagainya dan seterusnya”. Inilah ungkapan-ungkapan pembelaan kita, ini nantinya akan menjadi alasan bagi kita agar kita dapat menjawab atas pertanggungjawaban dakwah itu di hadapan Allah.

Penyebab kedua sekaligus menjadi tujuan adalah agar mereka yang kita dakwahi menjadi orang yang bertaqwa (la’allahum yattaqun). Bukankah taqwa itu adalah posisi yang mulia di hadapan Allah? Kita berdakwah agar semua manusia menjadi mulia di hadapan Allah. Allah tidak menghendaki agar kita bertaqwa secara peribadi, tetapi ketaqwaan ini harus kolektif, massal, dan berlaku dalam seluruh aspek kehidupan. Itulah alasan mengapa kita berdakwah, itulah alasan mengapa kita tidak pernah berniat untuk berhenti berdakwah, meski sibuk, meski lelah, meski kepenatan, meski kita serba terbatas dan penuh kekurangan.

Lihatlah kita kepada pokok kelapa. Ia tidak pernah berhenti untuk memberikan manfaat kepada manusia dan makluk lain. Dari batangnya sehingga ke tempurung kelapa, ia memberi kebaikan kepada kita. Kita dapat nikmati umbutnya, air kelapa yang menyamankan, santan yang menambah selera masakan sang isteri, daunnya, lidinya, subhanallah, serba serbi pokok kelapa ini mensejahterakan kita. Itu hanyalah sebuah pokok, suatu tumbuhan, namun ia memberikan manfaat. Ia rela dirinya ditumbuhkan dan setelah itu dimanfaatkan segala yang ada padanya. Apatah lagi kita sebagai manusia, bukan hanya manusia biasa malah sudah menjadi seorang MUSLIM. Memberi manfaat dengan kalimat dakwah adalah kewajiban dan tuntutan besar di saat Islam hari ini tidak lagi menjadi sistem kehidupan yang menyuluruh dan lengkap dalam kehidupan umat. Di saat kalimah Allah dan undang-undang Allah tidak menjadi teras kepada pentadbiran manusia dan Negara. Kita punya kewajiban untuk menyampaikan kebenaran agama ini kepada orang lain. Kewajiban ini tidak hanya dilakukan dalam waktu yang singkat, harus berlanjutan, memakan masa yang lama, panjang waktunya, tidak sesaat.

Ingatlah ketika Rasulullah SAW berdakwah, selama lima tahun berdakwah siang dan malam, beliau hanya mendapati 40 orang laki-laki dan dua orang perempuan yang masuk Islam, sedangkan Baginda SAW telah berjuang keras selama lima tahun. Malahan Baginda SAW tidak pernah berhenti dan berehat. Justeru urusan dakwah ini perlu kita warisi dan menjadi agenda kehidupan utama kita. Kita tidak ada alternatif lain lagi melainkan berusaha menempatkan posisi diri kita sebagai juru dakwah umat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s