Kebangkitan Umat dan Kesatuan Generasi

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam dan selawat dan salam atas Rasulullah SAW dan orang-orang yang mendukungnya, sehingga ke Hari akhirat.

Kebangkitan Umat dan Kesatuan Generasi Umatnya

Kesatuan umat dan bangsa merupakan batu bata pertama dan titik tolak akan kebangkitan yang hakiki. seperti firman Allah:

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku”. (Al-Mu’minun:52)

Sebagaimana kebangkitan setiap umat atau bangsa selalu berada pada kesatuan anak bangsanya meskipun terdapat di dalamnya keragaman jenis dan warna kulit, secara khusus mereka harus berusaha untuk bekerja sama dan saling membanting tulang demi pembangunan negeri dan kemajuannya. Allah berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (Ali Imran:103)

Dan kesucian darah, kehormatan dan harta, dan diperlakukannya qisas bagi sesiapa yang melakukan pelanggaran dan kejahatan terhadapnya merupakan suatu keperluan, kerana itu Allah berfirman:

“Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”. (Al-Baqarah:179)

Kerana itu pula, akan terdapat banyak halangan dan rintangan yang dihadapi umat ini, dikepung oleh kekuatan jahat yang ingin melemahkan potensinya, menghalangi realisasi kebangkitannya sehingga dapat menikmati hidup dengan penuh kehormatan, kemuliaan dan kesejahteraan, yang mana hal tersebut merupakan hak alami dan fundamental dalam meniti kehidupan di dunia ini.

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui”. (Al-A’raf:32)

Ayat diatas memperlihatkan kepada kita tentang masa yang akan berlalu hari demi hari, seakan dia berkata: Bahawa kebangkitan telah Allah jadikan di muka bumi ini kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki semangat dan aktif, kerja keras dan memiliki kesedaran yang tinggi, dengan iman mampu memuliakan kedudukannya pada hari kiamat nanti jika dilakukan dengan penuh keikhlasan, memberikan keistimewaan dan perbezaan dari yang lain. Kerana itu apakah setelah adanya janji Rabbani ini kita lewatkan peluang kebangkitan begitu saja, memberikannya kepada selain kita dalam menentukan kehendak tempat kembali dan masa depan kita?!

Kita adalah satu-satunya umat yang ditakdirkan membawa kebaikan, telah diciptakan untuk membawa misi kebaikan; diawali dengan memberikan kebaikan kepada seluruh umat manusia, sebagaimana Allah berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imran:110)

Oleh itu, mempersiapkan umat untuk mengembang risalah Islam harus didahului dengan melakukan perbaikan dan perubahan, lalu setelah itu, menggunakan pelbagai jalan-jalan kebangkitan yang akan membuat pilihannya benar dan tujuannya tepat, iaitu meraih kebebasan dan kemuliaannya, kekuatan dan kebangkitannya, dan kemakmurannya dalam kehidupan yang sejahtera dan adil pembangunannya.

Langkah pertama menuju kebangkitan

Rukun pertama kebangkitan, jika suatu bangsa menginginkan kehidupan yang mulia adalah bersatunya kekuatan yang mumpuni, anak bangsa yang saling berpegang teguh pada kasatuan nasional, melebihi dari kemaslahatan peribadi dan jauh dari apa-apa kepentingan sesaat, sehingga jika demikian adanya, maka nescaya mampu melegalisasikan langkah pertama menuju kebangkitan yang penuh optimis, kesejahteraan yang diidamkan, mewujudkan impian orang-orang yang tertindas, terzalimi dan kaum lemah, membina pusat perawatan penyakit jiwa manusia, bahtera penyelamat dan kehidupan yang mulia.

Sesungguhnya kesatuan yang diidamkan dan diimpikan oleh suatu umat tidaklah akan terwujud kecuali jika memiliki norma-norma akhlak yang mulia di seluruh aspek kehidupannya; terutama akhlak kebangkitan umat dalam rangka mengalahkan kediktatoran, kekerasan dan kezaliman, sehingga mampu menjatuhkan regim diktator yang batil, dan inilah yang kita diharapkan agar tidak hilang dalam kehidupan umat; akhlak yang moderat, realistik, mutawazin (seimbang) dan syamilah (komprehensif) sehingga mampu menguatkan kehidupan umat, memberikan tenaga spiritual dalam rangka menghadapi pelbagai tentangan.

Sungguh kita pada saat ini sangat memerlukan hal tersebut. sebagaimana Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”

Akhlak juga merupakan agama, sebagaimana nabi ketika ditanya tentang makna agama, maka beliau bersabda: “Akhlak yang baik”. (Muslim)

Justeru itu, bahawa keperibadian akhlak dan nilai-nilai yang kokoh pada setiap kebangkitan, pada saat ianya amat diperlukan, terdapat padanya jenis, waktu, tempat dan kualiti, dan pada saat nilai-nilai yang tidak bersumber dari yang lain kecuali dari wahyu Allah yang mampu memberikan perbaikan fitrah yang lurus dan memeliharanya seperti dalam firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)

Sekiranya akhlak ini hilang dari kehidupan umat, maka akan terjadi kehancuran dan perpecahan di tengah anak bangsa, mereka akan saling bertikaian dan mengkehadapankan kepentingan masing-masing. Allah SWT berfirman:

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jumu’ah:2)

Kewajiban Hari Ini

Diantara nilai-nilai yang dapat menyatukan umat dalam satu tubuh adalah kejujuran dan amanah, keduanyalah yang dapat menyatu dalam kehidupan dan interaksi, perilaku dalam pergaulan dan dalam pelbagai tingkatan umat; pemimpin dan rakyat, pemerintah dan bangsa, pentadbir dan para pegawainya, cendekiawan dan wartawan, tentera dan polis, keluarga dan masyarakat, umat Islam dan non muslim, kerana kejujuran dan amanah merupakan dua sifat yang menjadi pokok utama dalam setiap risalah samawiyah, dan inilah yang dimiliki dari sifat Nabi SAW sebelum baginda diangkat menjadi seorang Rasul, mereka telah menjuluki nabi dengan orang yang jujur lagi amanah, dan ini pula yang menjadi pintu masuk akan keberhasilan dakwah baginda, terbukanya hati dan tersebarnya ideologi.

Ibnu Hisyam dalam sirahnya pernah berkata: ketika Allah menurunkan ayat “Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” maka nabi mengumpulkan keluarganya dan bertanya kepada mereka akan tingkat kepercayaan mereka kepadanya jika diberitahukan sesuatu kepada mereka , maka mereka menjawab dengan berkata: kami tidak mendapatkan darimu sedikitpun kecuali kejujuran. maka saat itu pula nabi berkata: “Sesungguhnya aku datang memberikan peringatan kepada kalian bahawa dihadapan saya ada azab yang pedih”.

Inilah kewajiban bagi setiap individu meskipun memiliki perbezaan orientasi dan kerja, begitu pula kewajiban bagi setiap umat meskipun memiliki perbezaan parti dan aliran.

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, bahawa Rasulullah SAW bersabda: ada empat perkara yang jika ada pada dirimu maka engkau tidak akan luput dari kehidupan dunia: Menjaga amanah, jujur dalam berbicara, akhlak yang baik dan makanan yang suci (halal)”. (Musnad Ahmad)

Inilah Jalan Menuju Kebangkitan Umat

Setelah Nabi SAW wafat, para khulafa menanggung beban dan tanggungjawab dengan penuh ketenangan dan amanah, tanpa ada kerancuan, kelemahan atau ancaman keamanan, kerana ideologi yang telah diajarkan oleh Nabi SAW adalah memerdekakan manusia, ideologi inilah yang mampu menjaga manusia dari tindakan penyimpangan dengan dakwah Islam kepada sesuatu yang menjadi tujuan dan objeknya; kerana Allah menghendaki agama ini kekal, dan dengannya memuliakan umat melalui revolusi ilmiah, kematangan akal dan tranformasi kepada asholah, sehingga secara cepat menampakkan kecerdasan dalam rangka memimpin dunia menuju peradaban Islam, memberikan keteladanan kepada seluruh umat manusia, dan untuk pertama kalinya terjadi peralihan kepemimpinan secara damai melalui baiat, menjadikan landasan akan sistem pemerintahan yang berlandaskan musyawarah dan legislasi kerakyatan, sehingga sampai kepada kesedaran mereka yang matang, ilmu yang cemerlang, amal yang berkesinambungan, pembinaan yang berterusan, produktiviti yang berkesinambungan, sehingga mereka berhak menjadi pemimpin dunia dan guru dunia.

Ianya tidak seperti yang telah kita saksikan dan sedang kita saksikan, dari pelbagai realiti yang memilukan: kediktatoran, penindasan, penjajahan, dan peristiwa yang mengerikan: isu perpecahan dan disintegrasi ditengah anak bangsa bagi menghancurkan umat, membunuh daya tahan tubuhnya dan menggagalkan kebangkitannya.

Jadi kita berada pada wakut yang tepat untuk bekerja dengan sungguh-sungguh untuk membangun kembali negeri kita. As-Syahid Sayyid Qutb berkata:

“Bahawa siapa saja yang hidup dengan sendirinya boleh jadi dapat hidup dengan tenang, namun tetap dalam posisi yang kecil dan akan mati dengan skala kecil, adapun yang dianggap besar adalah yang mampu membawa beban yang besar ini …. jadi untuk apa tidur? untuk apa istirehat? untuk apa dipan yang empuk, hidup yang tenang dan menyenangkan?!

Rasulullah SAW telah memahami akan hakikat ini dan ukurannya; sehingga baginda berkata kepada Khadijah saat Khadijah mengajaknya untuk tenang dan tidur:

“Telah lewat waktu untuk tidur wahai Khadijah”

Tentu telah berlalu waktu untuk tidur, dan tidak akan kembali sejak hari ini kecuali bangun malam, menikmati rasa letih dan jihad yang panjang dan berat! dan jangan lupa pula akan nasihat Syeikh As-Sya’rawi:

“Bahawa orang yang membawa kebenaran akan senantiasa berdiri tegak untuk menghancurkan kerosakan kemudian menenangkan diri (duduk) untuk membangun eksistensi”.

Munculnya Cahaya Harapan

Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Risalah “Nahwan Nur” iaitu khutbah yang disampaikan untuk para pemimpin dan penguasa umat:

“Sungguh Umat ini menuntut akan harapan yang luas dan lapang, kerana Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita bahawa putus asa adalah jalan kekufuran, dan berpangku tangan adalah merupakan fenomena kesesatan, Allah berfirman:

“Dan Kami hendak memberi kurnia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. (Al-Qashash:5)

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. (Ali Imran:140)

Kerana harapan telah bersinar cahayanya dengan adanya azimah umat yang kuat, perasaannya juga mengatakannya keinginannya, dan memiliki kemampuan untuk merealisasikan apa yang telah masuk kepadanya, melalui jalan kesatuannya iaitu jalan yang lurus menuju kebangkitannya, kenapa tidak? Sedangkan permasalahan yang dihadapi adalah sama, obsesinya sama dan impiannya juga sama…

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain”. (Al-Baqarah:71)

Bahawa kesatuan sudah menjadi tuntutan umat setelah sebelumnya berusaha diporakperandakan oleh regim penindas, dan setelah runtuhnya pelbagai bentuk penjajahan dan kekuasaan, sehingga kesedaran yang menghilangkan perasaan takut yang dibuat-buat kembali bersinar, manipulasi untuk menguasai potensi umat, menghancurkan kekuatannya yang kokoh dan penyebaran regim palsu.

Dan bagi mewujukan harapan ini tentunya sangat memerlukan kesedaran terhadap pelbagai permasalahan, kerja yang bersungguh-sunguh, keinginan yang jujur, azimah yang kuat terhadap kesatuan, eksplorasi seluruh potensi; baik ilmu, idea, politik, ekonomi untuk sebuah projek kesatuan umat, dan inilah yang diperintahkan Allah untuk kebangkitan hari ini. Allah berfirman:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran:104)

Dan akhir dari seruan kami adalah bahawa segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam dan selawat dan salam atas Rasulullah SAW pemimpin tercinta kita, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.

Risalah dari Prof. Dr. Muhammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s