Ramadhan: Mantap 5 Perkara

Salah satu yang kita dambakan dalam hidup ini adalah terwujudnya kehidupan yang baik berdasarkan nilai-nilai Islam. Sebagai agama yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna), Islam memberikan perhatian yang begitu besar pada pembentukan peribadi, keluarga dan masyarakat yang Islami. Oleh kerana itu, menjadi penting bagi kita untuk memahani hakikat peribadi, keluarga dan masyarakat yang Islami.

Ada banyak nilai tarbiyyah (pendidikan) dalam bulan Ramadhan akan kita peroleh, khususnya dari ibadah puasa. Kefahaman tentang keberkesanan madrasah ramadhan dalam membentuk jiwa individu, keluarga dan masyarakat yang islami untuk berhadapan dengan cabaran semasa  perlu kita perhalusi dan dibengkelkan agar ibadah puasa Ramadhan pada tahun ini benar-benar memberi impak kepada ummah seluruhnya.

Ibadah puasa Ramadhan  merupakan salah satu madsarah untuk membentuk modal insan yang muslim dan mukmin agar mampu memikul amanah yang dipertanggungjawab oleh Allah ke atas kita semua, iaitu penghambaan hanya sanya kepada Allah swt dan memakmurkam muka bumi dengan kehendak dan syariat Allah swt.

PERIBADI ISLAMI.

Kepincangan peribadi manusia telah menyumbang kepada pelbagai permasalah sosial dalam masyarakat, dan ia semakin membimbangkan dan menjadi barah dalam masyarakat. Kerosakan individu membawa kepada kerosakan masyarakat.

Justeru, pembinaan peribadi yang islami amat penting. Keperibadian yang islami adalah peribadi yang bertaqwa dan selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Perasaan diawasi oleh Allah menjadi begitu penting dalam kehidupan seorang muslim kerana dengan demikian dia tidak berani menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan Allah, hal ini kerana setiap perbuatan manusia ada pertanggung-jawabannya dihadapan Allah, kebaikan dan keburukan yang dilakukannya untuk dirinya sendiri. Allah berfirman yang artinya:

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al-Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk  maka petunjuk itu  untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka” (QS Az Zumar : 41).

Disamping itu pada ayat lain Allah juga berfirman yang ertinya:

“Dan janganlah Engkau mengikut apa yang Engkau tidak mempunyai pengetahuan mengenainya; Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati, semua anggota-anggota itu tetap akan ditanya tentang apa yang dilakukannya”. (QS Al Isra’ : 36).

Sasaran Ramadhan

Puasa dan seluruh peribadatan di dalam Islam melatih kita untuk selalu dalam pengawasan Allah, menghargai waktu, disiplin dan sebagainya, sehingga dari ibadah ini insya Allah akan kita capai peningkatan keislaman diri ke arah yang lebih baik dan terus menunjukkan ketundukan kepada Allah Swt hingga akhir hayat, Allah Swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan jangan sampai kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” (QS Ali Imran : 102).

Dalam madrasah ramadhan ini, sekurang-kurangnya ada lima sasaran yang harus dicapai oleh setiap mu’min yang menjalankan ibadah puasa, khususnya dalam konteks melahirkan individu muslim lagi mukmin.

 

  1. Memantapkan Aqidah

Tujuan utama puasa adalah mempersiapkan hati manusia untuk bertaqwa, sensitif, melembutkan hati dan takut kepada Allah. Taqwa membangkitkan kesedaran dalam hati sehingga mahu menunaikan kewajiban, taqwa juga menjaga hati seseorang sehingga ia tidak mahu merusak nilai-nilai ibadah puasa dengan maksiat meskipun hanya dengan getaran hati untuk berbuat maksiat. Ketaqwaan kepada Allah Swt merupakan bukti nyata dari kukuhnya aqidah seseorang, kerananya puasa dipertanggungjawabkan kepada siapa saja yang beriman kepada Allah Swt agar keimanan itu dapat menjelma menjadi ketaqwaan yang sempurna. Kerana itu taqwa menjadi puncak ketinggian rohani seorang muslim sehingga orang bertaqwalah yang berada pada posisi yang paling mulia di sisi Allah Swt, sebagaimana terdapat dalam firman Allah yang ertinya:

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al Hujuraat : 13).

Dalam konteks kehidupan masyarakat yang punah harga diri, sahsiah peribadi dan akhlak terpuji, maka puasa ini menjadi sangat penting. Kukuhnya iman menjadi modal utama bagi manusia untuk mampu memperbaiki akhlaknya, dari iman yang kukuh di dalam hati akan terwujud manusia yang berakhlak mulia. Kerana itu Sayyid Quthb dalam dzilalnya menyatakan: “Apabila terjadi kerosakan pada suatu generasi manusia, maka untuk memperbaikinya bukan dengan memperketat hukum terhadap mereka melainkan dengan jalan memperbaiki tarbiyah (pendidikan) dan hati mereka serta menghidupkan rasa taqwa di dalam hati mereka”.

 

  1. Membersihkan Jiwa.

Keadaan jiwa seseorang menjadi penentu utama bagi diri dalam bersikap dan berperilaku. Sikap dan perilaku yang baik atau buruk sangat ditentukan oleh apakah jiwanya bersih atau tidak. Puasa mentarbiyyah kita untuk menjadi manusia yang memiliki jiwa yang bersih. Indikasi jiwa yang bersih adalah senang melaksanakan apa yang diperintah Allah, menjauhi apa yang dilarang-Nya serta selalu berupaya untuk menyempurnakan pengabdiannya kepada .

Jiwa yang bersih akan membuat seseorang, pertama, senang pada kejujuran dan puasa memang mendidik seorang muslim untuk bersikap dan berperilaku jujur, meskipun tidak ada orang lain yang mengetahui kalau dia melakukan pelanggaran. Kedua, takut kepada Allah dan selalu merasa diawasi olehnya yang membuat tumbuh dalam jiwanya rasa dekat kepada Allah Swt  sehingga dia tidak mahu melanggar ketentuan-ketentuan Allah Swt, meskipun pelanggaran yang dilakukannya termasuk pelanggaran yang kecil dan tidak diketahui oleh orang lain. Ketiga, orang yang mendambakan kebersihan jiwa, manakala telah diselimuti dengan dosa, maka dia ingin membersihkan dosa-dosanya itu, dan puasa merupakan salah satu upaya untuk membersihkan jiwa dari dosa-dosa. Keempat, jiwa yang bersih juga dikenalpasti dalam bentuk disiplin dalam menjalan ketentuan-ketentuan Allah Swt dan puasa memang melatih kita untuk menjadi orang yang disiplin dalam menjalani kehidupan sebagaimana yang telah digariskan Allah Swt dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. Makan, minum, melakukan hubungan seksual dan sebagainya ada ketentuan waktu yang harus ditaati oleh seorang muslim selama menunaikan ibadah puasa, ini bererti puasa harus menghasilkan jiwa disiplin dalam ketaatan kepada Allah Swt. Dan kedisiplinan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam dunia apapun, apalagi dalam menjalani kehidupan sebagai seorang muslim.

  1. Memantapkan hubungan dengan Allah

Salah satu nilai tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah puasa adalah upaya memantapkan hubungan dengan Allah Swt, hal ini kerana setiap muslim yang berpuasa harus melaksanakannya kerana Allah dan dilakukan dengan ketentuan-ketentuan yang datang dari Allah Swt. Sesuatu yang biasanya halal untuk dilakukan atau dinikmati, pada saat berpuasa seorang muslim diharamkan oleh Allah Swt dan ia tunduk saja kepada sang pencipta meskipun ia boleh melakukannya atau memiliki sepenuhnya untuk dinikmati. Ini menunjukkan hubungan yang baik kepada Allah Swt yang menjelma dalam bentuk kepatuhan kepada-Nya, dan untuk itu seorang muslim mampu mengendalikan dan mengatasi tuntutan dari dalam dirinya yang bersifat fizik seperti makan, minum dan kehendak seksual.

Terjalinnya hubungan yang dekat kepada Allah Swt merupakan modal yang sangat penting bagi manusia, bahkan tidak hanya untuk jujur melaksanakan amanah sebagai khalifah tapi juga untuk mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Hubungan manusia yang jauh dengan Allah membuat manusia hanya mampu menyumbang krisis dalam kehidupan ini, sedangkan masalah yang ada tidak mampu diatasi. Padahal bila manusia merasa dekat dengan Allah dan ia merasa selalu diawasi oleh Allah Swt, niscaya ia tidak berani menyimpang dari ketentuan-Nya dan bila penyimpangan itu sudah terjadi, iapun cepat mengakui kesalahannya hingga memiliki kesediaan untuk menjalani hukuman akibat kesalahan yang dilakukannya.

  1. Memantapkan hubungan dengan sesama manusia

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin secara serentak di seluruh dunia. Kaum muslimin merasakan satu hal yang sama, iaitu lapar dan haus dan sama-sama berjuang untuk mampu menahan dan mengendalikan diri dari melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh Allah Swt meskipun peluang untuk itu sangat besar. Nilai keserentakan ini diharapkan dapat menghasilkan kebersamaan dan hubungan yang baik dengan sesama muslim. Semangat kebersamaan merupakan modal yang sangat berharga bagi menjana kekuatan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab di jalan Allah Swt, apalagi Dia amat mencintai orang yang berjuang secara bersama-sama dengan kerjasama yang baik, Allah berfirman yang ertinya: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam suatu barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh (QS 61:4).

Salah satu medan dakwah dan perjuangan yang harus mendapat perhatian besar dari seluruh komponen kaum muslimin adalah masjid-masjid yang sudah dibangunkan dengan terstruktur, besar dan megah dan membabitkan dana yang besar. Namun pra syarat pemakmurannya belum terlaksana sepenuhnya jika dibandingkan dengan fizik bangunannya. Untuk membolehkan masjid dimakmurkan sehingga berfungsi sebagai pusat pembangunan masyarakat Islam, diperlukan kebersamaan antara sesama umat Islam, baik sebagai pentadbir mahupun jamaah. Kerana itu harus terjalin kerjasama yang harmoni antara pentadbir masjid dengan jamaahnya, bahkan harus terjalin kerjasama antara masjid dengan satu masjid yang lainnya.

 

  1. Memantapkan jiwa ketabahan

Dalam perjuangan dibidang apapun, ketabahan jiwa merupakan sesuatu yang sangat dituntut adanya pada diri para seorang muslim, demikian pula halnya dengan perjuangan di dalam Islam dengan segala dimensinya yang luas. Namun harus kita sedari bahawa ketabahan tidak muncul dengan sendirinya, setiap orang perlu memperoleh kefahaman dan mendapatkan latihan bagi memiliki ketabahan. Ibadah puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang memberikan pendidikan dan latihan untuk memiliki ketabahan sehingga seorang muslim yang telah berpuasa semestinya menjadi orang yang memiliki daya tahan yang kuat dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah Swt meskipun dalam situasi yang sulit seperti haus dan lapar.

Oleh kerana itu, ketika situasi menjadi begitu sulit dalam perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, khususnya sesudah wafatnya Siti Khadijah, seorang isteri dan pendukung perjuangan serta wafat juga Abu Thalib yang sering memberikan perlindungan kepada Nabi dari gangguan orang-orang kafir, maka Allah Swt menegaskan kepada Nabi Muhammad Saw untuk bertahan dan melanjutkan perjuangan, walau apapun yang terjadi. Hal ini kerana kalau berbicara tentang kesulitan, generasi terdahulu juga mengalami kesulitan, bahkan kesulitan yang lebih berat lagi, Allah Swt berfirman yang ertinya: Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS 11:112).

Dengan demikian, momentum ibadah Ramadhan tahun ini menjadi saat yang sangat penting untuk memperbaiki situasi peribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa menuju redha Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s