Silibus Tarbiyah Akhlak: Ghaflah (Lalai)

Ketika ini kebanyakan manusia hidup dalam kelalaian yang nyata dari (mengingati) Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kampung akhirat. Dunia dan seluruh perhiasannya telah menjebak umat manusia, angan-angan tak karuan sudah menipunya, dan mereka telah dipandu oleh keinginan-keinginan jelek, syaitan serta hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada perbuatan tercela, namun dengan ini semua diri masih mengira bahawa telah berbuat sebaik-baiknya perbuatan.

Sesungguhnya ghaflah (lalai, terlena) adalah racun yang sangat mematikan, dan penyakit yang sangat berbahaya, yang dapat menguasai hati, merasuk mencengkam jiwa, serta menawan/melumpuhkan angota badan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ertinya: “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (Surah Al Anbiyaa’: 1)

Majoriti manusia dalam keadaan lalai
Al Imam Ibnu Al Qayyim rahimahullah berkata: Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya –kecuali sedikit saja- merupakan golongan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, iaitu mereka kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemaslahatan baginya, sedang mereka menyibukan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justeru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang mahu pun di masa mendatang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang ertinya: “Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman-walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Surah Yusuf: 103) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang ertinya: “Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (Surah Al An’am: 116) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang ertinya: “Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lalai dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Surah Yunus: 92)

Namun apakah lalainya kebanyakan manusia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dari hari kemudian itu merupakan hujjah bagi orang-orang yang alpa dan suka main-main? Sama sekali tidak…..Itu bukan hujjah bagi mereka, bahkan menjadi hujjah atas mereka, kerana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para Rasul, mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang tidak ada sekutu baginya, dan meninggalkan jalan-jalan kelengahan dan kesesatan, begitu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitab-kitab yang di dalamnya mengandung peringatan dari sikap lalai dan semua pintu-pintunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang ertinya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hati-mu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Surah Al ‘Araf: 205)

Al Imam Abu Muhammad Al Qushariy berkata: Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang manusia bersikap lalai, dan Dia telah memerintahkan agar selalu mengingat-Nya setiap saat, Dia  Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang ertinya: “Berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah zikir yang sebanyak-banyaknya.” (Surah Al-Ahzab: 41) Dan berfirman, yang ertinya: “(iaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring” (Surah Ali Imran: 191)

Siksa bagi orang yang lalai
Orang-orang yang lalai mendapatkan siksaan di dunia dan sangsi di akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ummat Nabi Musa tatkala mereka mendustakan dan menyakitinya, yang ertinya: “Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggalamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.” (Surah Al-A’raf: 136)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan neraka Jahannam – iaitu tempat siksaan di akhirat –  sebagai tempat kembali dan tempat tinggal bagi orang-orang yang lalai, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, yang ertinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manuia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunaknnya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Surah Al-A’raf: 179)

Ayat ini menjelaskan bahawa tempat akhir orang-orang yang lalai adalah Jahannam disebabkan mereka memiliki hati, namun hatinya sangat keras, tidak pernah tersentuh dan terenyuh, serta tidak tergerak sedikitpun dengan mau’idhah (nasihat), dia bagaikan batu, bahkan lebih keras. Mereka memiliki mata yang mampu melihat pemandangan zahir (luar) segala sesuatu, namun tidak mampu melihat dengannya hakikat segala urusan, dan tidak mampu dengannya membedakan antara yang bermanfaat dengan yang membahayakan.

Dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka mendengarkan suara-suara kebatilan, seperti dusta, nyanyian, kata-kata kotor, ghibah, dan namimah, dan mereka tidak mengambil manfaat dengannya dalam mendengarkan hal yang benar dan jujur yang berupa kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallaahu alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang ertinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya ialah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Surah Yunus: 7-8)

Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang azab orang-orang yang lalai di Jahannam, yang ertinya: “Dan telah dekat kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata), “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim. Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya.” (Surah Al Anbiya: 97-98)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memberitahukan bahawa kelalaian itu bila telah menguasai hati menyebabkan seseorang redha dengan kekufuran, dadanya merasa tenteram dengannya, pintu-pintu hidayah tertutup, dan terkuncilah hati itu, wal ‘iyadzu billah, sehingga taubat dan hidayah sangat sulit tercapai, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang ertinya: “Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahawasannya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran, dan penglihatan-nya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Surah An Nahl: 106-108)

Lalai sebab segala kejelekan
Al Imam Ibnu Al Qayyim berkata: Dan lalai dari (mengingat) Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari kemudian bila berpasangan dengan mengikuti hawa nafsu maka terlahirlah dari keduanya segala macam keburukan, dan umumnya bergabung antara keduanya dan tidak pernah terpisah. Barang siapa memperhatikan kerosakan situasi alam ini, secara umum mahu pun khusus maka dia bakal mendapatinya sebagai akibat dari kedua hal ini.

Kelalaian menjadi penghalang antara seseorang dengan kemampuan memandang kebenaran, mengetahuinya, dan memahaminya, sehingga ia termasuk dalam kalangan orang-orang yang sesat.

Tanda-tanda lalai
Saudaraku tercinta, lalai itu memiliki banyak tanda, dikala kita melihat salah satunya ada dalam diri kita, maka ketahuilah sesungguhnya kita dalam bahaya, cepatlah koreksi diri, kejarlah ketinggalan, dan mulailah bertindak terhadap tanda-tanda ini dengan cara-cara yang disyari’atkan agar kita mampu melepaskan diri dari cengkamannya sepanjang masa. Dan di antara-tanda itu adalah:

  1. Menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan inilah fenomena kelalaian yang paling besar.
  2. Kufur, fasiq, dan nifaq.
  3. Melakukan perbuatan-perbuatan keji, seperti zina, sodomi, minum-minuman keras, dan lain sebagainya.
  4. Menyia-nyiakan salat, dan mempermudahkan waktu-waktunya, serta (meninggalkan) mendirikannya secara berjamaah di masjid.
  5. Sedikit mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  6. Sedikit membaca Al Qur’an.
  7. Meninggalkan berdoa, dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  8. Mencintai dunia, dan menyibukan diri untuk mengumpulkannya dengan berbagai cara.
  9. Tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik dalam hal pakaian, cara hidup, dan penampilan.
  10. Berteman dengan orang-orang jahat, dan orang yang tidak mahu mengingatkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  11. Menyia-nyiakan waktu dalam hal yang bukan termasuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  12. Terlalu banyak makan, minum, tidur, dan bergaul, kerana itu semua menyebabkan rosaknya hati dan malasnya anggota badan dari melaksanakan berbagai macam ketaatan.
  13. Mendengarkan lagu-lagu, dan menonton siaran TV yang beracun.
  14. Tidak hati-hati dalam segala hal yang berkaitan dengan halal dan haram.
  15. Melanggar keharaman-keharaman yang nampak, seperti penyalahgunaan dadah, merokok, wanita bertabarruj dan keluar dengan bersolek serta memakai wangi-wangian, dan lain sebagainya.

(Sumber Rujukan: Nasrah Darul Wathan,  “Ila mata al ghaflah”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s