Hidup Bahagia Bersama Dakwah

Penulis menerima beberapa persoalan dari pembaca berkenaan dengan komitmen dan penglibatan seseorang dengan dakwah. Sejauh manakah seseorang wajar terlibat dengan dakwah sedangkan dia masih belajar lagi. Ada juga yang bertanya permasalahannya antara dakwah dan kesibukan kerjaya. Malah ada juga yang tidak faham mengapa kita perlu sibuk berdakwah.

Penulis yakin di luar sanatelah banyak kajian, sebaran, bahan tazkirah, ceramah, forum, bengkel dan sebagainya bicara tentang dakwah. 3 blog (usrahkeluarga / tarbiyah pewaris) penulis sendiri juga ada banyak tulisan bicarakan tentang tanggungjawab dan cabaran  dakwah. Bicara dakwah dan melaksanakan dakwah dalam kehidupan adalah 2 perkara berbeza.  Namun untuk penulisan kali ini, mari kita ulangkaji tentang “fadhail-fadhail da’wah”, moga-moga kita faham tentang dakwah dan dapat jawapan yang jelas mengapa kita perlu melibatkan diri dengan kegiatan dakwah.

Kita semua adalah seorang da’i, penyeru pada kalimatullah. Setiap kita adalah memikul taklif/ beban da’wah di pundak kita masing-masing.

Allah SWT telah memilih kita untuk memikul beban ini, dan tidak di berikan beban ini pada makhluk Allah yang lain. Dalam lingkup yang lebih kecil lagi iaitu manusia Allah juga memilih hamba-hamba-Nya yang beriman saja yang boleh memikul da’wah ini, tidak semua manusia Allah berikan kesempatan untuk ikut serta dan bergabung dalam kereta da’wah ini.

Maka sungguh berbahagia orang-orang yang dipilih Allah SWT untuk memasuki bahtera da’wah ini sementara orang lain tertinggal di belakang dan di luar bahtera atau bahkan ada yang  menghalang-halangi jalannya kereta da’wah ini.

Tapi sebesar apapun rintangan yang ada, sesungguhnya kereta da’wah ini akan terus melaju dan terus berkembang, samada kita ikut di dalamnya atau kita tidak turut serta di dalamnya.

Maka sungguh rugilah orang-orang yang diberi kesempatan untuk ikut kereta da’wah ini dan berjalan sekian waktu, namun sebelum sampai ke tujuan terminal yang sebenarnya iaitu Syurga-Nya yang indah, dia sudah turun (futur-insilakh) dan keluar dari kereta yang masih terus berjalan.


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS Ali Imran:104).

Ayat ini berbicara dan menyuruh segolongan umat untuk menyeru kebajikan (yad’uuna ilalkhoir), yang ertinya sekadar mengajak saja dengan tidak ada unsur pemaksaan dalam da’wah kerana sifatnya hanya menyeru, bukan memerintah.

Tapi pada kalimah selanjutnya Allah mengatakan dan menyuruh pada yang ma’ruf (ya’muruuna bil ma’ruf) yang ertinya ada ikatan dan hukum yang kuat. Masing-masing mempunyai keutamaan yang berbeza dan di lakukan oleh pelaku yang berbeza.

Bagi kita para aktivis da’wah (InsyaAllah), tugas yang pertama iaitu menyeru pada kebaikan ini hendaknya yang harus kita laksanakan. Segala potensi yang ada pada diri kita yang telah di berikan Allah SWT , kita maksimakan dengan baik untuk kemajuan da’wah.

Dari individu-individu muslim yang mempunyai pelbagai bentuk potensi dan kemampuan inilah da’wah akan mampu digerakkan sesuai dengan manhaj. Mereka yang aktif berda’wah dengan lisannya lewat ceramah, tabligh, syiar, daurah, training, seminar ataupun mereka yang mempunyai kemampuan dalam hal berda’wah melalui tulisan dan analisa-analisanya yang tajam.

Ada beberapa hal keutamaan da’wah yang harus kita sentiasa ingat, sehingga saat fenomena adanya aktivis da’wah yang futur menghampirinya, dia akan mengingat tentang “fadhail-fadhail da’wah” sehingga akan menguatkan kembali hati yang sedang menurun. Bukankah hati manusia ini lebih suka bergejolak dan terbolak-balik daripada air yang mendidih.

Setiap saat hati kita harus senantiasa di tadzkir/ di ingatkan dengan akhirat baik oleh faktor internal iaitu dari dalam diri kita ataupun faktor luaran yang bersumber dari pihak lain. Justeru yang sering kita inginkan adalah kita memerlukan siraman-siraman penyejuk hari dan himmah/ semangat serta ruh yang baru dari orang lain untuk  menguatkan hati kita.

Adapun keutamaan da’wah antara lain :

1. A’dhamu Ni’mah / Nikmat yang terbesar

Dengan bersama da’wah, hakikatnya dia telah mendapatkan kenikmatan yang sangat besar, kelazatan iman, kemuliaan hidup kerana tidak setiap orang mendapatkan kesempatan nikmat berda’wah ini.

Saat kita merasa lelah, letih, sakit kerana banyaknya tugas-tugas da’wah yang tertanggung atas bahu kita, itulah saat terindah kita upaya mengadukan diri kita pada pemilik kereta da’wah yang sesungguhnya, Allahu Rabbul Izzah lewat tilawah kalam-Nya, ataupun dengan bermunajat dalam kekhusu’an solat-solat kita.

Sungguh merupakan kenikmatan dari Allah yang tidak di berikan kepada semua orang kecuali para da’i yang mukhlis di jalanNya.

2. Ahsanul Amal / Sebaik-baiknya amal

Dan Allah mengatakan :” Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang soleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” “

Da’wah adalah sebaik-baik perkataan dan sebaik-baik amal. Tidak ada perbuatan lain yang lebih baik selain da’wah untuk menyeru pada kalimatul hiyal ‘Ulya/ kalimah Allah yg maha tinggi iaitu menerusi da’wah ini. Begitu beruntungnya mereka yang terlibat aktif dalam da’wah kerana ia telah melakukan sebaik-baik amal perbuatan.

3. Minhatu Rusul / Tugas pokok Rasul

Setiap Rasul yang di utus Allah mereka punya tugas yang utama dan pertama iaitu menyampaikan risalah/ da’wah. Dari NabiyuLLah Adam alaihissalam sampai baginda yang mulia Muhammad, tugas pokok mereka adalah da’wah.

Tabligh/ menyampaikan risalah kebenaran dari Rabb mereka iaitu Allahu rabbul  A’la. Saat Rasul terakhir telah di wafatkan oleh Allah, maka tugas pokok da’wah ini belum berakhir kerana ia harus di pikul oleh para umat Rasul yang telah mendapatkan pelajaran berharga darinya baik melalui hadith, sunnah dan wahyu yang Allah turunkan padanya iaitu Alqur’an.

Tugas kita hanyalah meneruskan risalah yang sudah ada dan lengkap, kemudian menyeru manusia lainnya yang belum sampai kepada mereka risalah Allah ini.

4. AlHayyatu Rabbaniyyah / Kehidupan yang diredhai Allah SWT

Redha Allah adalah segala-galanya. Setiap detik dari semua perbuatan kita adalah mencari mardhotiLLah iaitu meraih Redha Allah bukan redha makhluk. Betapa bahagianya bila kita menjadi manusia yang selalu mendapatkan Redha-Nya. Puncak dari pencarian manusia dalam hidup adalah keredhaaanNya. Maka dengan da’wah inilah kita mampu mewujudkan dan menggapai redha-Nya.

5. Memperoleh balasan yang besar dan berlipat ganda (al-hushulu ‘ala al-ajri al-‘azhim).

Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (Bukhari, Muslim & Ahmad).

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani ketika menjelaskan hadith ini mengatakan bahwa: “Unta merah adalah kenderaan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab saat itu.”

Hadith ini menunjukkan bahawa usaha seorang da’i menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah swt, lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan mewah miliknya.

Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan:

“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).

Berapakah jumlah malaikat, semut dan ikan yang ada di dunia ini? Bayangkan betapa besar kebaikan yang diperoleh oleh seorang da’i dengan doa mereka semua!

Imam Tirmidzi setelah menyebutkan hadith tersebut juga mengutip ucapan Fudhail bin ‘Iyadh yang mengatakan:

“Seorang yang berilmu, beramal dan mengajarkan (ilmunya) akan dipanggil sebagai orang besar (mulia) di kerajaan langit.”

Keagungan balasan bagi orang yang berdakwah tidak hanya pada besarnya balasan untuknya tetapi juga karena terus menerus nya ganjaran itu mengalir kepadanya meskipun ia telah wafat.

Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:

“Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikit pun pahala mereka yang mencontoh nya. Dan barangsiapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya. (HR. Muslim dari Jarir bin Abdillah ra).

6. Dakwah dapat menyelamatkan kita dari azab Allah swt (An-Najatu minal ‘Azab)

Dakwah yang dilakukan oleh seorang da’i akan membawa manfaat bagi dirinya sebelum manfaat itu dirasakan oleh orang lain yang menjadi objek dakwahnya (mad’u). Manfaat itu antara lain adalah terlepasnya tanggung jawabnya di hadapan Allah swt sehingga ia terhindar dari adzab Allah.

Tersebutlah sebuah daerah yang bernama “Aylah” atau “Eliah” sebuah perkampungan Bani Israil. Penduduknya diperintahkan Allah untuk menghormati hari Jumat dan menjadikannya hari besar, namun mereka tidak bersedia dan lebih menyukai hari Sabtu. Sebagai hukumannya Allah swt melarang mereka untuk mencari dan memakan ikan di hari Sabtu, dan Allah membuat ikan-ikan tidak muncul kecuali di hari Sabtu. Sekelompok orang kemudian melanggar larangan ini dan membuat perangkap ikan sehingga ikan-ikan di hari Sabtu masuk ke dalam perangkap lalu mereka mengambilnya di hari ahad dan memakannya. Sementara orang-orang yang tidak melanggar larangan Allah terbahagi menjadi dua kelompok iaitu mereka yang mencegah kemungkaran dan mereka yang diam saja.

Terjadilah dialog antara orang-orang yang diam saja dengan mereka yang  berdakwah mengingatkan saudara-saudaranya yang melanggar larangan Allah. Dialog ini disebutkan dalam Al-Quran:

Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri  yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu , di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu , dan supaya mereka bertakwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (Al-A’raf : 163-165).

Perhatikan jawaban orang-orang yang berdakwah ketika ditanya mengapa mereka menasihati orang-orang yang melanggar perintah Allah:

1.    مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ

2.    وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

1.    Kami berdakwah agar menjadi argumentasi & penyelamat kami dihadapan Allah swt.

2.    Mudah-mudahan mereka bertaqwa.

Perhatikan pula bahawa yang secara tegas diselamatkan oleh Allah dari adzab-Nya adalah orang-orang yang melarang perbuatan maksiat.

Dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar adalah penyelesaian permasalahan sosial yang harus dilakukan oleh kaum muslimin agar kehidupan ini selalu didominasi oleh kebaikan. Kebatilan yang mendominasi kehidupan akan menyebabkan turunnya teguran atau azab dari Allah swt. Rasulullah saw bersabda:

Perumpamaan orang yang tegak di atas hukum-hukum Allah dengan orang yang melanggarnya seperti kaum yang menempati posisinya di atas bahtera, ada sebagian yang mendapatkan tempat di atas, dan ada sebagian yang mendapat tempat di bawah. Mereka yang berada di bawah jika akan mengambil air harus melewati orang yang berada di atas, lalu mereka berkata: “Jika kita melubangi bahagian bawah milik kita dan tidak mengganggu mereka..” Kalau mereka membiarkan keinginan orang yang akan melubangi, mereka semua celaka, dan jika mereka menahan tangan mereka maka selamatlah semuanya. (HR. Bukhari).

7. Dakwah adalah Jalan Menuju Khairu Ummah

Rasulullah saw berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik sepanjang zaman dengan dakwah baginda. Dakwah secara umum dan pembinaan aktivis secara khusus adalah jalan satu-satunya menuju terbentuknya khairu ummah yang kita idam-idamkan. Rasulullah saw melakukan tarbiyah mencetak aktivis-aktivis dakwah di kalangan para sahabat baginda di rumah Arqam bin Abil Arqam ra, baginda juga mengutus Mush’ab bin Umair ra ke Madinah untuk membentuk kelompok asas dan membina masyarakat terbaik di Madinah (Ansar).

Jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw ini adalah juga jalan yang harus kita tempuh untuk mengembalikan kembali kejayaan umat. Imam Malik bin Anas ra berkata:

“Akhir umat ini tidak menjadi baik kecuali menggunakan cara yang digunakan untuk memperbaiki generasi awalnya.” (Nashiruddin Al-AlBani, Fiqhul Waqi’ hlm 22).

Umat Islam harus memainkan peranan dakwah & amar ma’ruf nahi munkar dalam semua keadaannya, baik ketika memperjuangkan terbentuknya khairu ummah mahupun ketika cita-cita khairu ummah itu telah terwujud. Allah swt berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran : 110).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s