Tips Membangkitkan Momentum Tarbiyah Murabbi

Tugas kita sebagai da’i hanyalah menyeru. Hasilnya kita serahkan kepada ALLAH. Tapi bukan bererti kita boleh ala kadar dalam melaksanakan projek dakwah. Kita tetap harus profesional dalam dakwah. Kita harus senantiasa itqan dalam pekerjaan ini. Untuk itulah, perlu dipersiapkan pula perajurit dakwah yang akan mengisi “jabatan” sesuai bidangnya. Salah satunya dengan melalui tarbiyah.

Tarbiyah adalah kerja besar. Projek raksasa. Sistem yang integral. Dahsyat. Mengubah yang sederhana menjadi luar biasa. Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh orang-orang yang memiliki naluri kepahlawanan.

Tarbiyah adalah sebuah pilihan. Mengambil pilihan ini tentu mengandung risiko di luar zon selesa kita.

Tarbiyah adalah perubahan. Berani tarbiyah ertinya harus siap berubah, mengubah diri sendiri mahupun mengubah orang lain. Kerana perubahan adalah keperluan, maka yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan perubahan itu menjadi lebih menyenangkan.

Di sinilah pentingnya peranan seorang murabbi. Memang, dalam tarbiyah harus ada murabbi dan mutarabbi. Keduanya penting. Akan tetapi, hubungan seorang murabbi dan mutarabbinya bukan hanya sebatas hubungan guru dan murid, namun lebih dari itu.

Khususnya murabbi, ia adalah walid (orang tua). Murabbi adalah syeikh. Murabbi adalah guru. Murabbi juga adalah qa’id (panglima yang berwibawa).

Sebagai walid, ayah atau ibu, murabbi berperanan dalam ikatan emosional. Ia berperanan menguatkan mutarabbinya bila mereka sedang dalam keadaan futur (lemah). Menanyakan khabarnya, meraikannya, menenangkannya, menjadi pembimbingnya.

Sebagai syeikh, murabbi adalah pengarah jiwa yang selalu memberi oasi ilmu dan memberikan sentuhan jiwa dalam spiritual dan ruhiyah. Sentiasa baru. Selalu ke hadapan dan bersemangat dan selalu bermanfaat untuk ummat.

Sebagai guru (ustaz), murabbi mesti tidak berhenti belajar dan menimba ilmu. Ini kerana ia bertugas mengajarkan Al-Qur’an dan Kitab, memberikan ilmu, memberikan wawasan baru sehingga murid-murid merasa tenteram bersamanya.

“Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujadilah: 11)

Murabbi adalah qa’id, panglima yang berwibawa, pemimpin yang berkarisma, inovatif dalam amalnya, kreatif mencari alur bagi para pengikutnya, pelopor dalam kebaikan, teladan dalam kebajikan, motivator di tengah kelesuan, motor dalam perubahan.

Tentunya sebagai qa’id, murabbi tidak hanya duduk-duduk saja. Tapi ia selalu terdepan dalam berprestasi dan inovasi tak pernah henti, agar bagaimanapun murabbi tetap lebih unggul.

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS Fathir: 32)

Itulah beberapa peranan seorang murabbi dalam tarbiyah. Rasulullah adalah imamnya yang utama. Al Qur’an dan Sunnah adalah panduan utama. Allah tujuannya. Syahid cita-citanya.

Adapun perajurit dakwah adalah pahlawan. Kerana ia rela mengambil peranan di tengah kesulitan, menapaki risiko di saat orang menghindar, meraih momentum saat manusia masih terlena hina, dan menyusun kerja besar saat orang lain belum tersedar.

Untuk membentuk perajurit seperti itu, diperlukan energi yang besar dan kerja yang keras. Ada beberapa karakter khas perajurit istimewa ini dalam dakwah, sebagaimana berikut:

1. Bersedia membina diri (tarbiyah dzatiyah)

Dalam dakwah, perajurit sejati adalah mereka yang bersedia membina diri dan menyerahkan segala komitmennya buat perjuangan dakwah. Komitmennya tulus, tujuannya lurus, amal-amalnya bukan untuk mencari fulus, kerjanya serius, fikirannya diasah terus, dan langkah-langkahnya maju terus.

Allah SWT berfirman:

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran: 146)

2. Bertransaksi di jalan Illahi dengan penuh kesedaran dan kefahaman

Yang dimaksudkan adalah kesadaran untuk menukar harta, jiwa, nyawa dan dirinya dengan syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Tanpa paksaan. Tanpa tekanan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah dalam Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111)

3. Sabar, tidak menyerah hati kepada yang lain selain Islam

Kerana komitmennya inilah, perajurit dakwah tidak mahu berjual hatinya kepada yang lain. Ini kerana ia yakin bahawa Allah tidak mungkin ingkar janji. Kerana itulah, tetaplah anda wahai penerus risalah Rasulullah saw di jalan dakwah ilallah.

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul-Mu. Dan jangan Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS Ali Imran: 194)

Perajurit dakwah yang ikhlas adalah bukti, mana emas mana loyang, mana yang asli dan mana yang palsu, dan sebagainya. Justeru itu, perajurit dakwah yang sejati tidak akan mengkhianati Allah. Tetap setia pada komitmen awal, bahawa Islam adalah agama yang fitrah. Maka ia setia mengikuti Rasululah tanpa banyak membantah.

Innallaha ma’aashshobbiriin.

4. Berani: Siap mengambil Risiko Terberat

Kerana komitmen inilah, para sahabat Nabi menempatkan diri sebagai pembela Nabi, menukar kecintaan diri untuk sepenuh hati pada Nabi. Dalam kafilah inilah ramai perajurit-perajurit pilihan dengan pelbagai keistimewaan. Ada Sa’ad bin Abi Waqqash pemanah jitu pertama atas rekomendasi Rasulullah. Ada Abu Dujanah dengan pedang terhunusnya menjadi benteng Nabi. Ada Khubaib bin Adi yang tidak rela Nabi disakiti walau hanya tertusuk duri sekalipun. Ada pula Ummu Sulaim dengan belati kecilnya yang sentiasa mendampingi Nabi dalam Perang Uhud. Itu semua perlu komitmen keberanian dan berisiko sebagai konsekuensi pilihan.

Jalan dakwah jalan mulia, bukanlah jalan yang bertabur bunga. Jalan suci tetapi sepi, tanpa puji. Jalan para nabi yang banyak dikhianati. Jalan para ulama yang tegar. Jalan orang-orang besar yang penuh risiko. Tapi ingatlah, yang penting bukan label melainkan peranan. Sebab, Menjadi penting itu baik, tapi menjadi baik itu jauh lebih penting.

Jadilah perajurit sejati dalam dakwah. Bangkitkan momentum dan energi tarbiyah dalam diri. Dengan segala komitmen dan kesetiaan yang penuh risiko. Ingatlah, syurga Allah bukan untuk orang-orang yang bermalasan. Jika kita menolong agama Allah, niscaya Allah PASTI akan menolong kita.

One thought on “Tips Membangkitkan Momentum Tarbiyah Murabbi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s