Bedah Buku: Bahtera Penyelamat (1)

MUQADDIMAH

bahteraBuku ini adalah ringkasan dan intisari kuliah yang telah saya sampaikan dalam beberapa pertemuan yang membincangkan masalah pendidikan. Dalam huraiannya saya menyentuh beberapa halangan dan penderitaan yang sering dihadapi oleh para pendakwah Islam. Saya juga menyentuh beberapa ciri-ciri dan sifat Imaniyyah yang wajib dimiliki oleh seorang Da’ei yang menyeru kepada Allah Subhanahu Wata’ala, supaya mereka menjadi golongan Rabbani, mampu menghadapi sebarang cabaran dan dapat mengatasinya dengan berkat pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala. Buku ini mengandungi 4 persoalan asas:

PERTAMA — Menyentuh 5 jenis dugaan yang kerap menimpa seorang Muslim
lebih-lebih lagi Da’ei yang beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai
Tuhan, kepada Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi Wasallam dan Al Qur’an;
sebagai perlembagaan, serta ingin ‘committed’ dengan apa yang diyakininya.

5 jenis dugaan yang tersebut di dalam hadith Rasulullah Sallallahu’alaihi
Wasallam itu ialah:

i) Orang Mukmin yang dengki kepadanya
ii) Orang Munafiq yang membencinya
iii) Orang kafir yang mahu memeranginya
iv) Syaitan yang hendak menyesatkannya
v) Nafsu yang sentiasa bertarung dengannya

Continue reading

Abu Ubaidah bin al-Jarrah

60 sirahRasulullah saw pernah bersabda yang maksudnya, “Setiap umat mempunyai sumber kepercayaan, sumber kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” Itulah penghargaan bintang mahaputra yang diterima oleh Abu Ubaidah dari Rasulullah saw. Penghargaan yang tidak diberikan Rasulullah kepada sahabat yang lainnya. Tapi ini bukan bererti, bahawa Rasulullah saw tidak percaya kepada sahabat yang lainnya. Memang kalau dilihat dari kenyataan yang ada Abu Ubaidah layak mendapatkan gelar seperti itu. Sekalipun ia tidak mengharapkannya.

Dari susuk tubuhnya yang tinggi, kurus tapi bersih, tampak di sana tersimpan sifat-sifat mulia yang tidak dimiliki orang lain. Jujur, tawadu’, pemalu itulah diantara sifat yang paling menonjol dari Abu ‘Ubaidah bin Jarrah r.a. Muhammad bin Ja’far pernah bercerita, suatu ketika datang rombongan Nasrani Najran menemui Rasulullah saw. “Ya Abalqasim,” kata utusan itu, “Datangkanlah utusanmu ke negeri kami untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang kami hadapi. Kami betul-betul redha dan yakin terhadap kaum muslimin.” Rasulullah menyanggupinya dan menjanjikan kepada mereka seraya berkata, “Esok hari aku akan mengutus bersama kalian seorang yang benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya.” Rasululah menyebut “amin” (terpercaya) sehingga diulanginya tiga kali.

Tidak lama kemudian beritapun tersebar ditengah-tengah para sahabat ra. Masing-masing ingin ditunjuk oleh Rasulullah saw menjadi utusan. Umar ra mengungkapkan, “Aku benar-benar mengharap agar aku ditunjuk Rasulullah saw untuk mengurusi tugasan itu.

Aku sengaja mengangkat kepalaku agar baginda dapat melihatku dan mengutusku untuk melaksanakan tugasan yang diamanahkannya. Rasul masih tetap mencari seseorang, sehingga beliau melihat Abu Ubaidah dan berkata, “Wahai Abu Ubaidah, pergilah engkau bersama-sama dengan penduduk Najran. Jalankan hukum-hukum dengan penuh kebenaran terhadap segala apa yang mereka perselisihkan. ” Itulah mulianya ahklak Abu Ubaidah bin Jarrah.

Continue reading